Tanah Air Mata
(Sutardji Calzoum
Bachri)
Tanah airmata tanah tumpah
dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur
tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan
derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka
lara
tapi perih tak bisa
sembunyi
ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas
pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa
menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air
mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman
air mata
Sutardji Calzum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau
pada tanggal 24 Juni 1941. Ia adalah anak ke lima dari sepuluh orang bersaudara. Beliau melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sosial Politik (SOSPOL) jurusan Administrasi Negara,
Universitas Padjadjaran, Bandung, namun tidak selesai. Selain menempuh
jalur pendidikan formal, Sutardji juga mengikuti berbagai program pendidikan nonformal
seperti peserta Poetry reading International di Rotterdam, Belanda
(1974) dan International Writing Program di IOWA City Amerika Serikat
(1975). Ia mulai menulis di media cetak sejak berumur 25 tahun.
Dalam dunia perpuisian Indonesia sosok Sutardji Calzoum Bachri sangat
fenomenal. Di kalangan para pujangga, ia digelari ‘Presiden Penyair Indonesia’. Puisi “Tanah Air Mata” ini diambil dari kumpulan puisi
Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air Karya Sutardji Calzoem Bachri yang dibuat
tahun 1991. Puisi ini dibuat oleh beliau untuk memperlihatkan kenyataan yang terjadi pada masyarakat kecil
yang hidup tak berdaya. Puisi Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air merupakan bentuk
kepedulian penyair terhadap suara rakyat kecil yang menjerit dalam penderitaan
yang menuntut keadilan.
Cara yang digunakan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya dapat
dilihat dari bunyi. Bunyi-bunyi yang ditemukan dalam Tanah Air
Mata karangan Sutardji terlihat menimbulkan bunyi-bunyi yang berirama sendu yang menimbulkan suasana
keprihatinan yang dirasakan pengarang. Melalui irama yang
menimbulkan suasana sendu ini, pengarang mampu menunjukkan kesedihannya dan membawa
pembaca pada zaman itu. Seperti
pada bait ke-1:
Tanah air mata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
Tak hanya sampai pada bait
itu, Sutardji juga mampu memunculkan perasaan haru dan sendu pada hati setiap
pembacanya.
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
seperti
pada penggalan puisi ini, penyair yaitu Sutardji Calzoum Bachri mampu
menggambarkan perihnya keadaan pada zaman itu. Penyair melukiskan perasaan
masyarakat, penduduk pada zaman itu dengan baik melalui pemilihan kata yang
sederhana namun, memiliki makna atau arti yang sangat dalam. Beliau
menggambarkan bagaimana masyarakat pada zaman tersebut harus bertahan di balik
penderitaan yang mereka rasakan. Penderitaan karena pemerintahan yang otoriter
pada zaman tersebut.
Puisi Tanah Air Mata merupakan bentuk rekaman kegelisahan pada zaman tersebut, kejanggalan keadaan, kemuraman,
keprihatinan yang dirasakan dan ditunjukkan
oleh pengarang. Keprihatinan ini diungkapkan lewat bahasa tulisannya
yang khas, memiliki daya pikat sendiri, dan imajinatif. Pikiran, perasaan, pengalaman, yang terilhat
jelas tentang situasi kehidupan manusia dan kenyataan yang
sedang terjadi dalam kehidupan zaman ini bahwa antara rakyat dan pemimpin tetap
ada jurang pemisah.
bumi memang tak sebatas
pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa
menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air
mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman
air mata
Sutardji
yang pandai membuat pilihan kata, dan membuat pengimajian menjadikan puisi
Tanah Air Mata sebuah simbol yang berbicara tentang realitas kehidupan rakyat
yang penuh penderitaan karena kebijakan-kebijakan pemimpin negara pada masa
itu. Kata-kata
dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa sehingga menimbulkan
imajinasi yang tepat. Sajak
di atas menggunakan kosa kata yang biasa dalam pemakaian sehari-hari, sehingga dapat dipahami jika puisi tersebut dibaca kapanpun, tidak hilang atau tidak terjadi pergeseran makna.
Melalui
bait puisi ini, pengarang menggambarkan apa yang selama ini di ingin dikatakan
oleh rakyat kepada pemimpin. Bagaimana penderitaan mereka selama orde tersebut
berlangsung. Bagaimana jalan pikiran mereka selama. Pengarang mampu
menggambarkan dengan baik bagaimana keadaan negara ini memang telah merdeka
namun rakyat masih belum merasakan bagaimana kemerdekaan itu sendiri.
Pengarang
menggambarkan tidak ada tempat untuk bersembunyi lagi bagi para pemimpin yang
otoriter pada masa itu. Karena, seluruh negeri sudah merasakan penderitaan
rakyatnya. Di manapun dan ke manapun para pemimpin pergi, di sana ada
penderitaan yang dirasakan oleh rakyatnya. Di akhir bait ini pengarang juga
mampu menyampaikan atau mewakilkan rakyat yang menginginkan para pemimpin pada zaman
itu turun dari jabatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar