Sabtu, 03 Juni 2017

Contoh kritik ekspresif tanah air mata

Tanah Air Mata
(Sutardji Calzoum Bachri)


Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

Sutardji Calzum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau pada tanggal 24 Juni 1941. Ia adalah anak ke lima dari sepuluh orang bersaudara. Beliau melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sosial Politik (SOSPOL) jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung, namun tidak selesai. Selain menempuh jalur pendidikan formal, Sutardji juga mengikuti berbagai program pendidikan nonformal seperti peserta Poetry reading International di Rotterdam, Belanda (1974) dan International Writing Program di IOWA City Amerika Serikat (1975). Ia mulai menulis di media cetak sejak berumur 25 tahun.

Dalam dunia perpuisian Indonesia sosok Sutardji Calzoum Bachri sangat fenomenal. Di kalangan para pujangga, ia digelari ‘Presiden Penyair Indonesia’. Puisi “Tanah Air Mata” ini diambil dari kumpulan puisi Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air Karya Sutardji Calzoem Bachri yang dibuat tahun 1991. Puisi ini dibuat oleh beliau untuk memperlihatkan kenyataan yang terjadi pada masyarakat kecil yang hidup tak berdaya.  Puisi Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air merupakan bentuk kepedulian penyair terhadap suara rakyat kecil yang menjerit dalam penderitaan yang menuntut keadilan.

Cara yang digunakan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya dapat dilihat dari bunyi. Bunyi-bunyi yang ditemukan dalam Tanah Air Mata karangan Sutardji terlihat menimbulkan bunyi-bunyi yang berirama sendu yang menimbulkan suasana keprihatinan yang dirasakan pengarang. Melalui irama yang menimbulkan suasana sendu ini, pengarang mampu menunjukkan kesedihannya dan membawa pembaca pada zaman itu. Seperti pada bait ke-1:

                                    Tanah air mata tanah tumpah dukaku
                                    mata air airmata kami
                                    airmata tanah air kami  

Tak hanya sampai pada bait itu, Sutardji juga mampu memunculkan perasaan haru dan sendu pada hati setiap pembacanya.
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana

seperti pada penggalan puisi ini, penyair yaitu Sutardji Calzoum Bachri mampu menggambarkan perihnya keadaan pada zaman itu. Penyair melukiskan perasaan masyarakat, penduduk pada zaman itu dengan baik melalui pemilihan kata yang sederhana namun, memiliki makna atau arti yang sangat dalam. Beliau menggambarkan bagaimana masyarakat pada zaman tersebut harus bertahan di balik penderitaan yang mereka rasakan. Penderitaan karena pemerintahan yang otoriter pada zaman tersebut.

Puisi Tanah Air Mata merupakan bentuk rekaman kegelisahan pada zaman tersebut, kejanggalan keadaan, kemuraman, keprihatinan yang dirasakan dan ditunjukkan oleh pengarang.  Keprihatinan ini diungkapkan lewat bahasa tulisannya yang khas, memiliki daya pikat sendiri, dan imajinatif. Pikiran, perasaan, pengalaman, yang terilhat jelas tentang situasi kehidupan manusia dan kenyataan yang sedang terjadi dalam kehidupan zaman ini bahwa antara rakyat dan pemimpin tetap ada jurang pemisah.
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

Sutardji yang pandai membuat pilihan kata, dan membuat pengimajian menjadikan puisi Tanah Air Mata sebuah simbol yang berbicara tentang realitas kehidupan rakyat yang penuh penderitaan karena kebijakan-kebijakan pemimpin negara pada masa itu. Kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa sehingga menimbulkan imajinasi yang tepat. Sajak di atas menggunakan kosa kata yang biasa dalam pemakaian sehari-hari, sehingga dapat dipahami jika puisi tersebut dibaca kapanpun, tidak hilang atau tidak terjadi pergeseran makna.

Melalui bait puisi ini, pengarang menggambarkan apa yang selama ini di ingin dikatakan oleh rakyat kepada pemimpin. Bagaimana penderitaan mereka selama orde tersebut berlangsung. Bagaimana jalan pikiran mereka selama. Pengarang mampu menggambarkan dengan baik bagaimana keadaan negara ini memang telah merdeka namun rakyat masih belum merasakan bagaimana kemerdekaan itu sendiri.


Pengarang menggambarkan tidak ada tempat untuk bersembunyi lagi bagi para pemimpin yang otoriter pada masa itu. Karena, seluruh negeri sudah merasakan penderitaan rakyatnya. Di manapun dan ke manapun para pemimpin pergi, di sana ada penderitaan yang dirasakan oleh rakyatnya. Di akhir bait ini pengarang juga mampu menyampaikan atau mewakilkan rakyat yang menginginkan para pemimpin pada zaman itu turun dari jabatannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar